Jumat, 11 Januari 2013


BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL

 
BUDIDAYA LELE DI KOLAM TERPAL

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin. Di Indonesia ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain: ikan kalang (Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makasar), ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). Sedang di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond (Thailand), ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre trang (Jepang). Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish. Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele bersifat noctural.
Klasifikasi ikan lele menurut Hasanuddin Saanin dalam Djatmika et al (1986)
adalah:
Kingdom               : Animalia
Sub-kingdom        : Metazoa
Phyllum                : Chordata
Sub-phyllum         : Vertebrata
Klas                       : Pisces
Sub-klas                : Teleostei
Ordo                      : Ostariophysi
Sub-ordo              : Siluroidea
Familia                 : Clariidae
Genus                    : Clarias
Ternak ikan lele relatif  lebih mudah apabila dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya seperti ikan mas atau mujair karena lebih tahan terhadap penyakit maupun kondisi lingkungan. dalam usaha ternak atau budidaya lele semakin menginspirasi banyak orang untuk ikut terjun dan berharap meraih kesuksesan dalam usaha ini. Ditambah lagi dengan semakin banyaknya informasi dari beberapa media tentang peluang usaha budidaya ikan lele yang semakin menjanjikan karena pasarnya yang luas dan permintaan akan ikan lele yang terus meningkat, bahkan belakangan ini telah ramai dibicarakan bahwa ikan lele akan ikut andil dalam komoditi ekspor, dikarenakan ada beberapa negara yang memang sangat membutuhkan pasokan ikan lele.
Budi daya ikan lele adalah salah satu usaha yang menggiurkan, jika sudah berjalan dengan baik usaha ini bisa menghasilkan omset yang besar. Perawatan ikan lele ini pun juga tidak terlalu sulit dan tidak memakan banyak biaya, Dari perkiraan yang saya lakukan pada sub bab perencanaan keuangan di bab sebelumnya menunjukkan Pendapatkan laba Rp12.145.000 bagaimana bila usaha ikan lele ini sudah dijalankan dalam jumlah yang lebih besar, tentu keuntungan yang didapat juga akan jauh lebih besar.
1.2.Rumusan Masalah
1)     Bagaimana Perencanaan Budidaya Ikan Lele Sangkuriang di kolam Terpal?
2)     Bagaiamana Pengorganisasian Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal?
3)     Bagaimana Pelakasanaan Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal?
4)     Bagaimana Pengawasan Usaha Budidaya Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal?
1.3.Tujuan
1)     Mengetahui Perencanaan Budidaya Ikan Lele Sangkuriang di kolam Terpal
2)     Mengetahui Pengorganisasian Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal
3)     Mengetahui Pelakasanaan Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal
4)     Mengetahui Pengawasan Usaha Budidaya Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal

PEMBAHASAN

2.1. Perencanaan (Planing)
Perencanaan atau biasa disebut dengan Planing merupakan hal yang sangat penting sebelum memulai usaha karena tanpa adanya perencanaan yang matang suatu usaha tidak akan berjalan dengan lancar. Begitu juga dengan usaha Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal juga harus perlu adanya perencanaan. Perencanaan usaha Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal meliputi perencanaan Faktor Produksi, skala usaha, kondisi ekonomi, perencanaan biaya serta perencanaan pemasaran.
2.1.1. Perencanaan Faktor Produksi
Sebelum memulai usaha Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal perlu adanya perencanaan faktor produksi. Beberapa faktor produksi dalam usaha Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal diantaranya adalah :
1)     Bibit
Bibit ikan lele haruslah dipilih yang berkualitas dan baik agar nantinya target produksi bisa terpenuhi. Ciri ciri bibit yang baik adalah
·       Bergerak lincah
·       Anggota tubuh lengkap
·       Tidak cacat
·       Ukuran 4 – 7 cm
·       Ukuran seragam
2)     Lokasi
Lokasi sangatlah menentukan dalam usaha Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal karena nantinya akan mempengaruhi saat panen. Syarat lokasi yang baik adalah
·       Dekat sumber air
·       Mudah dalam sarana transportasi
·       Usahakan jangan tanah kapur
·       Dekat dengan faktor faktor produksi yang lain
3)     Air
Ini merupakan faktor utama penentu keberhasilan. Ketersediaan air haruslah sangat mencukupi meskipun ikan lele tahan dengan kondisi perairan dibawah normal. Kualitas air juga harus diperhatikan.
4)     Dll
2.1.2. Perencanaan Skala Produksi
Yang dimaksud perencanaan skala produksi ini adalah seberapa besar usaha yang akan kita lakukan. Ada beberapa skala usaha budidaya yaitu skala kecil, sedang dan besar. Dalam menentukan skala produksi harus ditentukan terlebih dahulu tujuan dari budidaya yang kita lakukan. Jika tujuanya hanya untuk hobi dan dikonsumsi sehari hari maka lebih cocok dalam skala kecil, jika tujuanya untuk usaha budidaya maka skala sedang dan besar adalah yang paling cocok. Tapi biasanya untuk skala besar memerlukan modal yang besar pula. Selain disesuaikan dengan tujuan usaha budidaya juga disesuaikan dengan skala yang ada.
2.1.3. Kondisi Ekonomi
Seperti yang dijelaskan diatas bahwa kondisi ekonomi menentukan skala usaha budidaya tak terkecuali usaha Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal.
2.1.4. Metode Budidaya
Metode Budidaya adalah bagaimana cara kita akan melakukan usaha budidaya. Ada 3 metode budidaya yang biasa di lakukan yaitu
a.      Tradisional
Usaha budidaya tradisional adalah usaha budidaya dengan menggunakan peralatan tradisional, pakanpun hanyalah memakai pakan alami, usaha budidaya secara tradisional dinilai kurang tepat jika digunakan untuk usaha karena pertumbuhan lele yang rekatif lambat
b.     Semi intensif
Berbeda dengan budidaya secara tradisional usaha budidaya jenis ini sudah menggunakan pakan buatan sebagai pakan ikan nya. Kontruksi tambakanya adalah bagian dasar adalah tanah berlumpur sedangkan dindingnya terbuat dari beton.
c.      Intensif
Nah cara inilah yang paling disarankan untuk suatu usaha budidaya karena pengontrolanya sangat sangat diperhatikan. Pakan yang digunakan sudah menggunakan pakan buatan dan kolamnya terbuat dari beton. Peralatan yang digunakan pun sudah modern.
2.1.5. Analisa Biaya
INVESTASI
1.     Kolam terpal 10 unit @500.000 = Rp 5.000.000
2.     Peralatan 1 paket Rp 100.000
Jumlah Rp 5.100.000
MODAL KERJA
1.     Benih 18.000 ekor @250 = Rp 4.500.000
2.     Pakan 1800 kg @6.000 = Rp 10.800.000
3.     Tenaga kerja 2 Orang @1.000.000 = Rp 2.000.000
4.     Persiapan kolam 10 Paket @50.000 = Rp 500.000
Jumlah 17.800.000
JUMLAH MODAL
1.     Investasi Rp 5.100.000
2.     Modal kerja Rp 17.800.000
Jumlah Rp 22.900.000
RUGI-LABA
1.     Hasil produksi 1800 kg @ 11.000 = Rp 19.800.000
2.     Biaya operasional
a Modal kerja Rp 17.800.000
b Penyusutan Rp 1.020.000
Jumlah Rp 18.820.000
Keuntungan                                        : Rp 980.000
Per tahun                                            : Rp 3.920.000

Keterangan
1 siklus                                                :
 2 (dua) bulan
1 tahun                                                : 4 (empat) siklus
I unit                                                   : 12 m2
FCR                                                    : 1
SR                                                       : 80%
Kepadatan                                          : 150 ekor/m2
Ukuran benih                         : 8-10 cm/ekor
Tenaga kerja                                                 : 1 (satu) orang x 2 bulan x
                                                               Rp.1.000.000
Peralatan                                            : seser, timbangan, ember
R/C ratio =penerimaan total / biaya total :
Rp. 9.800.000 /Rp. 17.800.000 :
1,11
Artinya , setiap Rp. 1,00 yang dikeluarkan akan mendapatkan penerimaan Rp. 1,11
Cash flow =keuntungan + biaya penyusutan :
Rp. 3.920.000 + Rp. 1.020.000 :
Rp. 4.940.000
Payback period = (biaya investasi + biaya variabel) / cash flow (dalam thn)
(Rp. 5.100.000 + Rp. 17.800.000) / Rp.4.940.000 :
4,64 tahun
Biaya per kg = total biaya produksi / total panen :Rp. 18.820.000 / 1800 kg :
Rp. 10.455,55
Rentabilitas ekonomi = keuntungan / (biaya investasi + biaya variabel) x 100% :Rp. 3.920.000 / (Rp. 5.100.000 + Rp. 17.800.000) x 100%
17,12 %
Break Event point (BEP) atau titik impas = biayatetap/(1-(biaya variabel/pendapatan)
Rp. 1.020.000 / (1- (Rp. 17.800.000 / Rp.19.800.000 :
Rp. 1.020.000 / (1-0,89) :
Rp. 1.020.000 / 0,101 :
Rp. 10.098.000
BEP volume = total biaya produksi / harga jual per kg :Rp. 18.820.000 / Rp. 11.000 :
1710,91 kg/thn
Artinya, titik impas usaha dicapai pada hasil ikan minimal 1710.91 kg/thn
BEP harga =total biaya produksi / total produksi :
Rp. 18.820.000 / 1800 :
Rp. 10.455 kg/thn
Artinya, titik impas usaha dicapai pada harga ikan minimal Rp. 10.455/kg
2.1.6. Perencanaan Pemasaran
Dalam satu usaha, pemasaran merupakan hal yang sangat penting, demikian juga halnya dalam pemasaran lele, namun sangat disayangkan jika kegagalan pemasaran produksi lele terjadi karena faktor usaha pemasaran yang kurang atau memang belum menjalankan strategi pemasaran lele secara maksimal, Peluang pemasaran lele sangat besar, ini bukan sekedar slogan atau propaganda, telah banyak survey dan riset-riset pemasaran  dilakukan oleh orang-orang yang memang ahli dibidangnya, kebutuhan masyarakat akan lele konsumsi memang semakin meningkat, Sebelum membahas tata cara pemasaran lele, yang pertama kita lakukan adalah mengetahui sasaran atau target pasar ikan lele konsumsi, mungkin telah banyak diinformasikan bahwa terdapat beberapa target pasar untuk ikan lele konsumsi, diantaranya adalah ; warung pecel lele, warteg, rumah-rumah makan lainnya atau bahkan resto-resto yang sudah mulai menawarkan menu special ikan lele, ditambah lagi belakangan ini semakin banyak berkembang tempat-tempat usaha yang mengelola daging ikan lele atau yang lebih dikenal dengan istilah lele olahan, mulai dari baso lele sampai dengan lele presto, ini baru target pemasaran lele secara umum, namun untuk orang-orang yang ingin melakukan pemasaran lele hal ini jangan dianggap remeh, dari tempat-tempat inilah sebetulnya daya serap kebutuhan lele sangat tinggi.
Sebagai contoh yang mudah untuk target pemasaran lele adalah warung pecel lele yang kian menjamur dimana-mana. Analogikan saja jika di sekitar kita ada sekitar 50 warung pecel lele, ini adalah perumpamaan standart dan mungkin dalam wilayah yang radiusnya tidak terlalu luas, berdasarkan survey dilapangan, kebutuhan ikan lele konsumsi perwarung pecel lele adalah 2 s/d 3 kg/hari pada hari biasa, bahkan pada hari-hari libur bisa meningkat hingga 5 kg atau lebih perharinya, jika dikalikan saja dengan angka yang terendah yaitu 2 kg/hari x 50 warung pecel lele, maka kebutuhan lele konsumsi di daerah kita adalah 100 kg/hari atau 3 ton/bulan. Dari analogi tersebut terbukti bahwa pemasaran lele di daerah sekitar kita saja sudah merupakan peluang yang sangat besar, itu baru dari warung pecel lele saja, bagaimana dengan peluang pemasaran lele pada usaha pengelolaan daging lele yang lainnya, pastinya akan lebih banyak lagi peluang pemasaran lele yang akan didapatkan. Bahkan ada beberapa pengalaman dari para peternak lele skala rumah tangga, mereka hanya memiliki kolam di halaman rumah, saat akan panen mereka memasang plang di depan rumah, alhasil seluruh produksi lelenya laris terjual.
Langkah lain dalam pemasaran lele adalah dengan menggunakan jasa para pengepul, hal ini bisa dilakukan jika  ingin perputaran modal lebih cepat, pasalnya para pengepul biasanya akan membeli lele dalam jumlah besar, tidak jarang mereka akan memborong hasil panen secara keseluruhan, walaupun harga yang mereka tawarkan pastinya lebih murah dibanding kita harus menjualnya sendiri. Jika kita sudah bisa menguasai pasar lele di daerah sendiri, biasanya dengan sendirinya usaha ternak lele  akan berkembang seiring dengan semakin banyaknya permintaan dan relasi yang terus bertambah.
2.2. Pengorganisasian (Organizing)
Dalam suatu usaha pengorganisasian sangatlah penting. Pengorganisasian yang bagus akan memudahkan dalam suatu usaha. Dalam menjalankan bisnis budidaya ikan lele, diterapkan sistem Analisis SWOT. Sebelum kita memulai sesuatu usaha kita harus mengetahui aspek-aspek yang dapat mempengaruhi usaha kita. Dengan harapan supaya usaha kita dapat lancer dan sukses. Yaitu dengan melakukan analisis sebagai berikut:
1.     Straight
·       Dengan budi baya ikan lele ini tidak terlalu memerlukan tenaga besar.
·       Penjualan ikan lele tidak terlalu sulit, tidak seperti ikan yang lainya.
2.     Weaknes
·       Bagi anda yang tak memiliki lahan yang cukup anda bisa membudidayakan ikan lele dengan menggunakan kolam dari terpal
3.     Opportunities
·       Peluang usaha yang tidak pernah mati adalah usaha perikanan. Sebab setiap hari masyarakat membutuhkan ikan untuk dikonsumsi semakin meningkat.
·       Umur pembudidayaan ikan lele yang relative singkat yang hanya kurang lebih 3 bulan membuat banyak yang memilih ikan lele untuk di budidayakan. 
4.     Threat
·       Dalam usaha ikan lele ini harus teliti karena ikan tidak tahan dengan cuaca yang tidak setabil.
·       Selalu mengecek kedalaman air. Kedalaman air jangan sampai kurang dari 70cm karena itu akan menghambat pertumbuhan ikan.
Dalam usaha budidaya ikan lele Sangkuriang Di Kolam Terpal ini pengorganisasian nya antara laian


2.2.1. Menejemen Tenaga Kerja
Dalam Usaha Budidaya Lele Sangkuriang Dikolam Terpal ini dengan skala sedang (Home Industri) tidak diperlukan merekrut tenaga kerja karena untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan. Tenaga kerja keluarga sudah cukup.
2.2.2. Manajemen Pakan
Pakan anakan lele berupa :
a)     Pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 – 4 hari.
b)     Pakan buatan untuk umur diatas 3 – 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.
c)     Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 – 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.
2.2.3. Menejemen air
Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik :
1.      Air harus bersih
2.      Berwarna hijau cerah
3.      Kecerahan/transparansi sedang (30 – 40 cm).
Ukuran kualitas air secara kimia :
1.      Bebas senyawa beracun seperti amoniak
2.      Mempunyai suhu optimal (22 – 26 0C).
Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan yang optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dengan cara dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2.
2.2.4. Menejemen Kesehatan
Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.

2.3. Pelaksanaan (Actuating)
2.3.1. Persiapan Lahan
Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi :
a)     Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
b)     Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.
c)     Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.
d)     Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah
·       Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.
·       Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama
2.3.2. Pembuatan Kolam
Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai :
a)     Kolam tandon.
Mendapatkan masukan air langsung dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain.
b)     Kolam pemeliharaan induk.
Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma.
c)     Kolam Pemijahan.
Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina.
d)     Kolam Pendederan.
Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya.
2.3.3. Pemilihan Induk
Induk jantan mempunyai tanda :
1.      Tulang kepala berbentuk pipih
2.      Warna lebih gelap
3.      Gerakannya lebih lincah
4.      Perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung
5.      Alat kelaminnya berbentuk runcing.
Induk betina bertanda :
1.      Tulang kepala berbentuk cembung
2.      Warna badan lebih cerah
3.      Gerakan lamban
4.      Perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin
         berbentuk bulat.
2.3.4. Pemijahan
Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.
2.3.5. Pemindahan
Cara pemindahan :
·       Mengurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.
·       Menyiapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang.
·       Menyamakan suhu pada kedua kolam
·       Memindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
·       Memindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.
2.3.6. Pendederan
Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 – 7 cm, 7 – 9 cm dan 9 – 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini
2.3.7. Panan Dan Pasca Panen
Penangkapan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan:
    1. Lele dipanen pada umur 6-8 bulan, kecuali bila dikehendaki, sewaktu-waktu dapat dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 200 gram/ekor.
    2. Pada lele Dumbo, pemanenan dapat dilakukan pada masa pemeliharaan 3-4 bulan dengan berat 200-300 gram per ekornya. Apabila waktu pemeliharaan ditambah 5-6 bulan akan mencapai berat 1-2 kg dengan panjang 60-70 cm.
    3. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele tidak terlalu kepanasan.
    4. Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan seser halus, tangan, lambit, tangguh atau jaring.
    5. Bila penangkapan menggunakan pancing, biarkan lele lapar lebih dahulu.
    6. Bila penangkapan menggunakan jaring, pemanenan dilakukan bersamaan dengan pemberian pakan, sehingga lele mudah ditangkap.
    7. Setelah dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama 1-2 hari tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau amisnya hilang.
    8. Lakukanlah penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali.
Pembersihan
Setelah ikan lele dipanen, kolam harus dibersihkan dengan cara:
·       Kolam dibersihkan dengan cara menyiramkan/memasukkan larutan kapur sebanyak 20-200 gram/m 2 pada dinding kolam sampai rata.
·       Penyiraman dilanjutkan dengan larutan formalin 40% atau larutan permanganat kalikus (PK) dengan cara yang sama.
·       Kolam dibilas dengan air bersih dan dipanaskan atau dikeringkan dengan sinar matahari langsung. Hal ini dilakukan untuk membunuh penyakit yang ada di kolam.
2.3.8. Pasca Panen
  1. Setelah dipanen, lele dibersihkan dari lumpur dan isi perutnya. Sebelum dibersihkan sebaiknya lele dimatikan terlebih dulu dengan memukul kepalanya memakai muntu atau kayu.
  2. Saat mengeluarkan kotoran, jangan sampai memecahkan empedu, karena dapat menyebabkan daging terasa pahit.
  3. Setelah isi perut dikeluarkan, ikan lele dapat dimanfaatkan untuk berbagai ragam masakan.
2.4. Pengawasan (Controling)
2.4.1. Pengawasan Hama Dan Penyakit
  1. Hama dan Penyakit
    1. Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan lele.
    2. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.
    3. Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama. Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.
    4. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla Bentuk bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang terletak di ujung batang), dan cambuk ini digunakan untuk bergerak, berukuran 0,7–0,8 x 1–1,5 mikron. Gejala: iwarna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan, bernafas megap-megap di permukaan air. Pengendalian: memelihara lingkungan perairan agar tetap bersih, termasuk kualitas air. Pengobatan melalui makanan antara lain: (1) Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7–10 hari berturut-turut. (2) Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari.
    5. Penyakit Tuberculosis Penyebab: bakteri Mycobacterium fortoitum). Gejala: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5–15 hari.
    6. Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia. Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah. Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas. Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1–0,2 ppm selama 1 jam atau 5–10 ppm selama 15 menit.
    7. Penyakit Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis
      Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis. Gejala: (1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang; (3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam. Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya. Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan Formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12–24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.
    8. Penyakit Cacing Trematoda  Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip. Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu. Pengendalian: (1) direndam Formalin 250 cc/m 3 air selama 15 menit; (2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam; (3) mencelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium -Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ± 30 menit; (4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit; (5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ± 10 menit.
    9. Parasit Hirudinae Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan. Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah. Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.
  2. Hama Kolam/Tambak
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :
    1. Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.
    2. Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.
    3. Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.
    4. Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.










PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari makalah diatas tentang usaha budidaya ikan lele sangkuriang di kolam terpal dapat diambil beberapa kesimpulan diantaranya adalah :
·       Dalam suatu usaha budidaya ada 4 elemen yang perlu diperhatiksn ysitu Planing, Organising, Actuating dan Controling
·       Planing adalah menejer memikirkan tujuan dan kegiatanya sebelum melaksanakan
·       Organising adalah manajer mengkoordinir sumberdaya manusian dan sumberdaya lainya yang dimiliki orgamisasi
·       Controling adalah manajer berusaha untuk meyakinkan bahwa organisasi bergerak dalam jalur tujuan yang sesuai
·       Budi daya ikan lele adalah salah satu usaha yang menggiurkan, jika sudah berjalan dengan baik usaha ini bisa menghasilkan omset yang besar. Perawatan ikan lele ini pun juga tidak terlalu sulit dan tidak memakan banyak biaya
3.2. Saran
Bagi pembaca yang ingin membudidayakan ikan lele, saran saya yang pertama harus dipertimbangkan adalah masalah lokasi, sebaiknya dipilih lokasi yang sejuk dan tidak kering/panas. Ikan lele cenderung tidak tahan akan cuaca panas, bila dibudi dayakan di lokasi yang panas ikan akan mati dan mudah terserang penyakit.



DAFTAR PUSTAKA

Aan Anwari 2012, Budidaya Ikan lele Di Kolam Terpalhttp://pontrenaan. Blogspot
            .com /2012/03/ perhitngan-analisa-usaha-ikan-lele.html
. Diakses Pada hari
             sabtu 5 Januari 2013 pukul 19.30 wib.
Djatmika, D.H., Farlina, Sugiharti, E. 1986. Usaha Budidaya Ikan Lele. C.V.
             Simplex. Jakarta.
Eko Prasetyo 2012 eko_prasetyo.blogspot.com 18:57http:// mengenal ekonomi
            .blogspot.com/2012/04/contoh-makalah-pengantar-bisnis.html
Diakses Pada
             hari sabtu 5 Januari 2013 pukul 19.30 wib.
Ruzh 2012 http://ruzh.blogspot.com/2010/09/ruang-usaha-panduan-dan-analisis.html
            
Diakses Pada hari sabtu 5 Januari 2013 pukul 19.30 wib.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar