BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Lele
merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin.
Di Indonesia ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain: ikan kalang
(Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling
(Makasar), ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). Sedang di
negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond (Thailand), ikan keli
(Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre trang (Jepang). Dalam bahasa Inggris
disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish. Ikan lele tidak
pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitatnya di sungai dengan arus
air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele
bersifat noctural.
Klasifikasi ikan lele menurut
Hasanuddin Saanin dalam Djatmika et al (1986)
adalah:
Kingdom : Animalia
Sub-kingdom : Metazoa
Phyllum : Chordata
Sub-phyllum : Vertebrata
Klas : Pisces
Sub-klas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub-ordo : Siluroidea
Familia : Clariidae
Genus : Clarias
adalah:
Kingdom : Animalia
Sub-kingdom : Metazoa
Phyllum : Chordata
Sub-phyllum : Vertebrata
Klas : Pisces
Sub-klas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub-ordo : Siluroidea
Familia : Clariidae
Genus : Clarias
Ternak ikan lele relatif lebih mudah apabila dibandingkan
dengan ikan air tawar lainnya seperti ikan mas atau mujair karena lebih tahan
terhadap penyakit maupun kondisi lingkungan. dalam usaha ternak atau budidaya
lele semakin menginspirasi banyak orang untuk ikut terjun dan berharap meraih
kesuksesan dalam usaha ini. Ditambah lagi dengan semakin banyaknya informasi
dari beberapa media tentang peluang usaha budidaya ikan lele yang semakin
menjanjikan karena pasarnya yang luas dan permintaan akan ikan lele yang terus
meningkat, bahkan belakangan ini telah ramai dibicarakan bahwa ikan lele akan
ikut andil dalam komoditi ekspor, dikarenakan ada beberapa negara yang memang
sangat membutuhkan pasokan ikan lele.
Budi daya ikan lele adalah salah satu usaha yang menggiurkan, jika
sudah berjalan dengan baik usaha ini bisa menghasilkan omset yang besar.
Perawatan ikan lele ini pun juga tidak terlalu sulit dan tidak memakan banyak
biaya, Dari perkiraan yang saya lakukan pada sub bab perencanaan keuangan di
bab sebelumnya menunjukkan Pendapatkan laba Rp12.145.000 bagaimana bila usaha
ikan lele ini sudah dijalankan dalam jumlah yang lebih besar, tentu keuntungan
yang didapat juga akan jauh lebih besar.
1.2.Rumusan Masalah
1) Bagaimana Perencanaan Budidaya Ikan Lele Sangkuriang di kolam
Terpal?
2) Bagaiamana Pengorganisasian Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di
Kolam Terpal?
3) Bagaimana Pelakasanaan Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam
Terpal?
4) Bagaimana Pengawasan Usaha Budidaya Lele Sangkuriang Di Kolam
Terpal?
1.3.Tujuan
1) Mengetahui Perencanaan Budidaya Ikan Lele Sangkuriang di kolam Terpal
2) Mengetahui Pengorganisasian Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di
Kolam Terpal
3) Mengetahui Pelakasanaan Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam
Terpal
4) Mengetahui Pengawasan Usaha Budidaya Lele Sangkuriang Di Kolam
Terpal
PEMBAHASAN
2.1. Perencanaan (Planing)
Perencanaan atau biasa
disebut dengan Planing merupakan hal yang sangat penting sebelum memulai usaha
karena tanpa adanya perencanaan yang matang suatu usaha tidak akan berjalan
dengan lancar. Begitu juga dengan usaha Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam
Terpal juga harus perlu adanya perencanaan. Perencanaan usaha Budidaya Ikan
Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal meliputi perencanaan Faktor Produksi, skala
usaha, kondisi ekonomi, perencanaan biaya serta perencanaan pemasaran.
2.1.1. Perencanaan Faktor
Produksi
Sebelum memulai usaha
Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di Kolam Terpal perlu adanya perencanaan faktor
produksi. Beberapa faktor produksi dalam usaha Budidaya Ikan Lele Sangkuriang
Di Kolam Terpal diantaranya adalah :
1) Bibit
Bibit ikan lele haruslah dipilih yang berkualitas dan baik agar
nantinya target produksi bisa terpenuhi. Ciri ciri bibit yang baik adalah
· Bergerak lincah
· Anggota tubuh lengkap
· Tidak cacat
· Ukuran 4 – 7 cm
· Ukuran seragam
2) Lokasi
Lokasi sangatlah menentukan dalam usaha Budidaya Ikan Lele
Sangkuriang Di Kolam Terpal karena nantinya akan mempengaruhi saat panen.
Syarat lokasi yang baik adalah
· Dekat sumber air
· Mudah dalam sarana transportasi
· Usahakan jangan tanah kapur
· Dekat dengan faktor faktor produksi yang lain
3) Air
Ini merupakan faktor utama penentu keberhasilan. Ketersediaan air
haruslah sangat mencukupi meskipun ikan lele tahan dengan kondisi perairan
dibawah normal. Kualitas air juga harus diperhatikan.
4) Dll
2.1.2. Perencanaan
Skala Produksi
Yang dimaksud perencanaan
skala produksi ini adalah seberapa besar usaha yang akan kita lakukan. Ada
beberapa skala usaha budidaya yaitu skala kecil, sedang dan besar. Dalam
menentukan skala produksi harus ditentukan terlebih dahulu tujuan dari budidaya
yang kita lakukan. Jika tujuanya hanya untuk hobi dan dikonsumsi sehari hari
maka lebih cocok dalam skala kecil, jika tujuanya untuk usaha budidaya maka
skala sedang dan besar adalah yang paling cocok. Tapi biasanya untuk skala
besar memerlukan modal yang besar pula. Selain disesuaikan dengan tujuan usaha
budidaya juga disesuaikan dengan skala yang ada.
2.1.3.
Kondisi Ekonomi
Seperti yang dijelaskan
diatas bahwa kondisi ekonomi menentukan skala usaha budidaya tak terkecuali
usaha Budidaya Ikan Lele Sangkuriang Di
Kolam Terpal.
2.1.4.
Metode Budidaya
Metode Budidaya adalah
bagaimana cara kita akan melakukan usaha budidaya. Ada 3 metode budidaya yang
biasa di lakukan yaitu
a.
Tradisional
Usaha budidaya tradisional adalah usaha budidaya dengan
menggunakan peralatan tradisional, pakanpun hanyalah memakai pakan alami, usaha
budidaya secara tradisional dinilai kurang tepat jika digunakan untuk usaha
karena pertumbuhan lele yang rekatif lambat
b. Semi intensif
Berbeda dengan budidaya secara tradisional usaha budidaya jenis
ini sudah menggunakan pakan buatan sebagai pakan ikan nya. Kontruksi tambakanya
adalah bagian dasar adalah tanah berlumpur sedangkan dindingnya terbuat dari
beton.
c.
Intensif
Nah
cara inilah yang paling disarankan untuk suatu usaha budidaya karena
pengontrolanya sangat sangat diperhatikan. Pakan yang digunakan sudah
menggunakan pakan buatan dan kolamnya terbuat dari beton. Peralatan yang
digunakan pun sudah modern.
2.1.5. Analisa Biaya
INVESTASI
1. Kolam terpal 10 unit @500.000 = Rp
5.000.000
2. Peralatan 1 paket Rp 100.000
Jumlah Rp 5.100.000
Jumlah Rp 5.100.000
MODAL KERJA
1. Benih 18.000 ekor @250 = Rp
4.500.000
2. Pakan 1800 kg @6.000 = Rp 10.800.000
3. Tenaga kerja 2 Orang @1.000.000 = Rp
2.000.000
4. Persiapan kolam 10 Paket @50.000 =
Rp 500.000
Jumlah 17.800.000
Jumlah 17.800.000
JUMLAH MODAL
1. Investasi Rp 5.100.000
2. Modal kerja Rp 17.800.000
Jumlah Rp 22.900.000
Jumlah Rp 22.900.000
RUGI-LABA
1. Hasil produksi 1800 kg @ 11.000 = Rp
19.800.000
2. Biaya operasional
a Modal kerja Rp 17.800.000
b Penyusutan Rp 1.020.000
Jumlah Rp 18.820.000
a Modal kerja Rp 17.800.000
b Penyusutan Rp 1.020.000
Jumlah Rp 18.820.000
Keuntungan : Rp 980.000
Per tahun : Rp 3.920.000
Keterangan
1 siklus : 2 (dua) bulan
1 tahun : 4 (empat) siklus
I unit : 12 m2
FCR : 1
SR : 80%
Kepadatan : 150 ekor/m2
Ukuran benih : 8-10 cm/ekor
Tenaga kerja : 1 (satu) orang x 2 bulan x
Rp.1.000.000
Peralatan : seser, timbangan, ember
R/C ratio =penerimaan total / biaya total :
Rp. 9.800.000 /Rp. 17.800.000 :
1,11
Artinya , setiap Rp. 1,00 yang dikeluarkan akan mendapatkan penerimaan Rp. 1,11
Cash flow =keuntungan + biaya penyusutan :
Rp. 3.920.000 + Rp. 1.020.000 :
Rp. 4.940.000
Payback period = (biaya investasi + biaya variabel) / cash flow (dalam thn)
(Rp. 5.100.000 + Rp. 17.800.000) / Rp.4.940.000 :
4,64 tahun
Biaya per kg = total biaya produksi / total panen :Rp. 18.820.000 / 1800 kg :
Rp. 10.455,55
Rentabilitas ekonomi = keuntungan / (biaya investasi + biaya variabel) x 100% :Rp. 3.920.000 / (Rp. 5.100.000 + Rp. 17.800.000) x 100%
17,12 %
Break Event point (BEP) atau titik impas = biayatetap/(1-(biaya variabel/pendapatan)
Rp. 1.020.000 / (1- (Rp. 17.800.000 / Rp.19.800.000 :
Rp. 1.020.000 / (1-0,89) :
Rp. 1.020.000 / 0,101 :
Rp. 10.098.000
BEP volume = total biaya produksi / harga jual per kg :Rp. 18.820.000 / Rp. 11.000 :
1710,91 kg/thn
Artinya, titik impas usaha dicapai pada hasil ikan minimal 1710.91 kg/thn
BEP harga =total biaya produksi / total produksi :
Rp. 18.820.000 / 1800 :
Rp. 10.455 kg/thn
Artinya, titik impas usaha dicapai pada harga ikan minimal Rp. 10.455/kg
Per tahun : Rp 3.920.000
Keterangan
1 siklus : 2 (dua) bulan
1 tahun : 4 (empat) siklus
I unit : 12 m2
FCR : 1
SR : 80%
Kepadatan : 150 ekor/m2
Ukuran benih : 8-10 cm/ekor
Tenaga kerja : 1 (satu) orang x 2 bulan x
Rp.1.000.000
Peralatan : seser, timbangan, ember
R/C ratio =penerimaan total / biaya total :
Rp. 9.800.000 /Rp. 17.800.000 :
1,11
Artinya , setiap Rp. 1,00 yang dikeluarkan akan mendapatkan penerimaan Rp. 1,11
Cash flow =keuntungan + biaya penyusutan :
Rp. 3.920.000 + Rp. 1.020.000 :
Rp. 4.940.000
Payback period = (biaya investasi + biaya variabel) / cash flow (dalam thn)
(Rp. 5.100.000 + Rp. 17.800.000) / Rp.4.940.000 :
4,64 tahun
Biaya per kg = total biaya produksi / total panen :Rp. 18.820.000 / 1800 kg :
Rp. 10.455,55
Rentabilitas ekonomi = keuntungan / (biaya investasi + biaya variabel) x 100% :Rp. 3.920.000 / (Rp. 5.100.000 + Rp. 17.800.000) x 100%
17,12 %
Break Event point (BEP) atau titik impas = biayatetap/(1-(biaya variabel/pendapatan)
Rp. 1.020.000 / (1- (Rp. 17.800.000 / Rp.19.800.000 :
Rp. 1.020.000 / (1-0,89) :
Rp. 1.020.000 / 0,101 :
Rp. 10.098.000
BEP volume = total biaya produksi / harga jual per kg :Rp. 18.820.000 / Rp. 11.000 :
1710,91 kg/thn
Artinya, titik impas usaha dicapai pada hasil ikan minimal 1710.91 kg/thn
BEP harga =total biaya produksi / total produksi :
Rp. 18.820.000 / 1800 :
Rp. 10.455 kg/thn
Artinya, titik impas usaha dicapai pada harga ikan minimal Rp. 10.455/kg
2.1.6. Perencanaan Pemasaran
Dalam
satu usaha, pemasaran merupakan hal yang sangat penting, demikian juga halnya
dalam pemasaran lele, namun sangat disayangkan jika kegagalan pemasaran
produksi lele terjadi karena faktor usaha pemasaran yang kurang atau memang
belum menjalankan strategi pemasaran lele secara maksimal, Peluang pemasaran
lele sangat besar, ini bukan sekedar slogan atau propaganda, telah banyak
survey dan riset-riset pemasaran dilakukan oleh orang-orang yang memang
ahli dibidangnya, kebutuhan masyarakat akan lele konsumsi memang semakin
meningkat, Sebelum membahas tata cara pemasaran lele, yang pertama kita lakukan
adalah mengetahui sasaran atau target pasar ikan lele konsumsi, mungkin
telah banyak diinformasikan bahwa terdapat beberapa target pasar untuk ikan
lele konsumsi, diantaranya adalah ; warung pecel lele, warteg, rumah-rumah
makan lainnya atau bahkan resto-resto yang sudah mulai menawarkan menu special
ikan lele, ditambah lagi belakangan ini semakin banyak berkembang tempat-tempat
usaha yang mengelola daging ikan lele atau yang lebih dikenal dengan istilah
lele olahan, mulai dari baso lele sampai dengan lele presto, ini baru target
pemasaran lele secara umum, namun untuk orang-orang yang ingin melakukan
pemasaran lele hal ini jangan dianggap remeh, dari tempat-tempat inilah
sebetulnya daya serap kebutuhan lele sangat tinggi.
Sebagai
contoh yang mudah untuk target pemasaran lele adalah warung pecel lele yang
kian menjamur dimana-mana. Analogikan saja jika di sekitar kita ada
sekitar 50 warung pecel lele, ini adalah perumpamaan standart dan mungkin dalam
wilayah yang radiusnya tidak terlalu luas, berdasarkan survey dilapangan,
kebutuhan ikan lele konsumsi perwarung pecel lele adalah 2 s/d 3 kg/hari pada
hari biasa, bahkan pada hari-hari libur bisa meningkat hingga 5 kg atau lebih
perharinya, jika dikalikan saja dengan angka yang terendah yaitu 2 kg/hari x 50
warung pecel lele, maka kebutuhan lele konsumsi di daerah kita adalah 100 kg/hari
atau 3 ton/bulan. Dari analogi tersebut terbukti bahwa pemasaran lele di daerah
sekitar kita saja sudah merupakan peluang yang sangat besar, itu baru dari
warung pecel lele saja, bagaimana dengan peluang pemasaran lele pada usaha
pengelolaan daging lele yang lainnya, pastinya akan lebih banyak lagi peluang
pemasaran lele yang akan didapatkan. Bahkan ada beberapa pengalaman dari para
peternak lele skala rumah tangga, mereka hanya memiliki kolam di halaman rumah,
saat akan panen mereka memasang plang di depan rumah, alhasil seluruh produksi
lelenya laris terjual.
Langkah
lain dalam pemasaran lele adalah dengan menggunakan jasa para pengepul, hal ini
bisa dilakukan jika ingin perputaran modal lebih cepat, pasalnya para
pengepul biasanya akan membeli lele dalam jumlah besar, tidak jarang mereka
akan memborong hasil panen secara keseluruhan, walaupun harga yang mereka
tawarkan pastinya lebih murah dibanding kita harus menjualnya sendiri. Jika
kita sudah bisa menguasai pasar lele di daerah sendiri, biasanya dengan
sendirinya usaha ternak lele akan berkembang seiring dengan semakin
banyaknya permintaan dan relasi yang terus bertambah.
2.2. Pengorganisasian (Organizing)
Dalam
suatu usaha pengorganisasian sangatlah penting. Pengorganisasian yang bagus
akan memudahkan dalam suatu usaha. Dalam menjalankan bisnis budidaya ikan lele,
diterapkan sistem Analisis SWOT. Sebelum kita memulai sesuatu usaha kita harus
mengetahui aspek-aspek yang dapat mempengaruhi usaha kita. Dengan harapan
supaya usaha kita dapat lancer dan sukses. Yaitu dengan melakukan analisis
sebagai berikut:
1. Straight
· Dengan
budi baya ikan lele ini tidak terlalu memerlukan tenaga besar.
· Penjualan
ikan lele tidak terlalu sulit, tidak seperti ikan yang lainya.
2. Weaknes
· Bagi
anda yang tak memiliki lahan yang cukup anda bisa membudidayakan ikan lele
dengan menggunakan kolam dari terpal
3. Opportunities
· Peluang
usaha yang tidak pernah mati adalah usaha perikanan. Sebab setiap hari
masyarakat membutuhkan ikan untuk dikonsumsi semakin meningkat.
· Umur
pembudidayaan ikan lele yang relative singkat yang hanya kurang lebih 3 bulan
membuat banyak yang memilih ikan lele untuk di budidayakan.
4. Threat
· Dalam
usaha ikan lele ini harus teliti karena ikan tidak tahan dengan cuaca yang
tidak setabil.
· Selalu
mengecek kedalaman air. Kedalaman air jangan sampai kurang dari 70cm karena itu
akan menghambat pertumbuhan ikan.
Dalam
usaha budidaya ikan lele Sangkuriang Di Kolam Terpal ini pengorganisasian nya
antara laian
2.2.1. Menejemen Tenaga Kerja
Dalam
Usaha Budidaya Lele Sangkuriang Dikolam Terpal ini dengan skala sedang (Home
Industri) tidak diperlukan merekrut tenaga kerja karena untuk mengurangi biaya
yang dikeluarkan. Tenaga kerja keluarga sudah cukup.
2.2.2. Manajemen Pakan
Pakan
anakan lele berupa :
a) Pakan
alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik)
dikonsumsi pada umur di bawah 3 – 4 hari.
b) Pakan
buatan untuk umur diatas 3 – 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama
kadar proteinnya.
c) Untuk
menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA
dengan dosis 1 – 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan
pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral
penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.
2.2.3. Menejemen air
Ukuran
kualitas air dapat dinilai secara fisik :
1. Air
harus bersih
2.
Berwarna hijau cerah
3.
Kecerahan/transparansi sedang (30 – 40 cm).
Ukuran
kualitas air secara kimia :
1. Bebas
senyawa beracun seperti amoniak
2.
Mempunyai suhu optimal (22 – 26 0C).
Untuk menjaga kualitas air agar selalu
dalam keadaan yang optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON yang
mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam
humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan
jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem
kolam yang seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dengan cara
dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu
pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis
pemakaian TON adalah 25 g/100m2.
2.2.4.
Menejemen Kesehatan
Pada dasarnya, anakan lele yang
dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan
lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang
jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit
penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam
menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah
penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal
itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele
terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang
sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan
jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam
dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan
juga harus sesuai.
2.3. Pelaksanaan (Actuating)
2.3.1. Persiapan Lahan
Proses
pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi :
a) Pengeringan.
Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
b) Pengapuran.
Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan
keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.
c) Perlakuan
TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan
berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya
sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2.
Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.
d) Pemasukan
Air.
Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4
hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
Pada
tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan
adalah
· Pembersihan
bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.
· Penjemuran
bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan
segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama
2.3.2. Pembuatan Kolam
Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak dan
kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan
dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe
galian, pembenihan lele harus mempunyai :
a) Kolam
tandon.
Mendapatkan masukan air
langsung dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan
air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam
yang lain.
b) Kolam
pemeliharaan induk.
Induk jantan dan
bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang
sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma.
c) Kolam
Pemijahan.
Tempat perkawinan induk
jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk,
batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina.
d) Kolam
Pendederan.
Berfungsi untuk membesarkan anakan
yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur
tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih
menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya.
2.3.3. Pemilihan Induk
Induk
jantan mempunyai tanda :
1. Tulang
kepala berbentuk pipih
2.
Warna lebih gelap
3.
Gerakannya lebih lincah
4. Perut
ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung
5. Alat
kelaminnya berbentuk runcing.
Induk
betina bertanda :
1. Tulang
kepala berbentuk cembung
2. Warna
badan lebih cerah
3. Gerakan
lamban
4.
Perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin
berbentuk bulat.
berbentuk bulat.
2.3.4. Pemijahan
Pemijahan adalah proses pertemuan induk
jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk
jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel
telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah
dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan
lele.
2.3.5. Pemindahan
Cara
pemindahan :
· Mengurangi
air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.
· Menyiapkan
tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang.
· Menyamakan
suhu pada kedua kolam
· Memindahkan
benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
· Memindahkan
benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari,
karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.
2.3.6. Pendederan
Adalah pembesaran hingga berukuran siap
jual, yaitu 5 – 7 cm, 7 – 9 cm dan 9 – 12 cm dengan harga berbeda. Kolam
pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari
plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress.
Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam
pendederan ini
2.3.7.
Panan Dan Pasca Panen
Penangkapan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam pemanenan:
- Lele dipanen pada umur 6-8 bulan, kecuali bila dikehendaki, sewaktu-waktu dapat dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 200 gram/ekor.
- Pada lele Dumbo, pemanenan dapat dilakukan pada masa pemeliharaan 3-4 bulan dengan berat 200-300 gram per ekornya. Apabila waktu pemeliharaan ditambah 5-6 bulan akan mencapai berat 1-2 kg dengan panjang 60-70 cm.
- Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele tidak terlalu kepanasan.
- Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan seser halus, tangan, lambit, tangguh atau jaring.
- Bila penangkapan menggunakan pancing, biarkan lele lapar lebih dahulu.
- Bila penangkapan menggunakan jaring, pemanenan dilakukan bersamaan dengan pemberian pakan, sehingga lele mudah ditangkap.
- Setelah dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama 1-2 hari tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau amisnya hilang.
- Lakukanlah penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali.
Pembersihan
Setelah ikan lele dipanen, kolam harus dibersihkan dengan
cara:
· Kolam dibersihkan dengan cara
menyiramkan/memasukkan larutan kapur sebanyak 20-200 gram/m 2 pada dinding
kolam sampai rata.
· Penyiraman dilanjutkan dengan
larutan formalin 40% atau larutan permanganat kalikus (PK) dengan cara yang
sama.
· Kolam dibilas dengan air bersih dan
dipanaskan atau dikeringkan dengan sinar matahari langsung. Hal ini dilakukan untuk
membunuh penyakit yang ada di kolam.
2.3.8. Pasca Panen
- Setelah dipanen, lele dibersihkan dari lumpur dan isi perutnya. Sebelum dibersihkan sebaiknya lele dimatikan terlebih dulu dengan memukul kepalanya memakai muntu atau kayu.
- Saat mengeluarkan kotoran, jangan sampai memecahkan empedu, karena dapat menyebabkan daging terasa pahit.
- Setelah isi perut dikeluarkan, ikan lele dapat dimanfaatkan untuk berbagai ragam masakan.
2.4. Pengawasan (Controling)
2.4.1. Pengawasan Hama Dan Penyakit
- Hama dan Penyakit
- Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan lele.
- Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.
- Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama. Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.
- Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla Bentuk bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang terletak di ujung batang), dan cambuk ini digunakan untuk bergerak, berukuran 0,7–0,8 x 1–1,5 mikron. Gejala: iwarna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan, bernafas megap-megap di permukaan air. Pengendalian: memelihara lingkungan perairan agar tetap bersih, termasuk kualitas air. Pengobatan melalui makanan antara lain: (1) Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7–10 hari berturut-turut. (2) Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari.
- Penyakit Tuberculosis Penyebab: bakteri Mycobacterium fortoitum). Gejala: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5–15 hari.
- Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia. Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah. Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas. Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1–0,2 ppm selama 1 jam atau 5–10 ppm selama 15 menit.
- Penyakit
Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis
Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis. Gejala: (1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang; (3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam. Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya. Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan Formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12–24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari. - Penyakit Cacing Trematoda Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip. Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu. Pengendalian: (1) direndam Formalin 250 cc/m 3 air selama 15 menit; (2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam; (3) mencelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium -Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ± 30 menit; (4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit; (5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ± 10 menit.
- Parasit Hirudinae Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan. Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah. Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.
- Hama Kolam/Tambak
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda
sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus
segera diubah, misalnya :
- Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.
- Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.
- Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.
- Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari makalah diatas tentang usaha
budidaya ikan lele sangkuriang di kolam terpal dapat diambil beberapa
kesimpulan diantaranya adalah :
· Dalam suatu usaha budidaya ada 4
elemen yang perlu diperhatiksn ysitu Planing, Organising, Actuating dan
Controling
· Planing adalah menejer memikirkan
tujuan dan kegiatanya sebelum melaksanakan
· Organising adalah manajer
mengkoordinir sumberdaya manusian dan sumberdaya lainya yang dimiliki
orgamisasi
· Controling adalah manajer berusaha
untuk meyakinkan bahwa organisasi bergerak dalam jalur tujuan yang sesuai
· Budi daya ikan lele adalah salah
satu usaha yang menggiurkan, jika sudah berjalan dengan baik usaha ini bisa
menghasilkan omset yang besar. Perawatan ikan lele ini pun juga tidak terlalu
sulit dan tidak memakan banyak biaya
3.2. Saran
Bagi pembaca yang ingin
membudidayakan ikan lele, saran saya yang pertama harus dipertimbangkan adalah
masalah lokasi, sebaiknya dipilih lokasi yang sejuk dan tidak kering/panas.
Ikan lele cenderung tidak tahan akan cuaca panas, bila dibudi dayakan di lokasi
yang panas ikan akan mati dan mudah terserang penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
Aan Anwari 2012, Budidaya Ikan lele
Di Kolam Terpalhttp://pontrenaan.
Blogspot
.com /2012/03/ perhitngan-analisa-usaha-ikan-lele.html. Diakses Pada hari
sabtu 5 Januari 2013 pukul 19.30 wib.
.com /2012/03/ perhitngan-analisa-usaha-ikan-lele.html. Diakses Pada hari
sabtu 5 Januari 2013 pukul 19.30 wib.
Djatmika,
D.H., Farlina, Sugiharti, E. 1986. Usaha Budidaya Ikan Lele. C.V.
Simplex. Jakarta.
Simplex. Jakarta.
Eko Prasetyo 2012 eko_prasetyo.blogspot.com
18:57http:// mengenal ekonomi
.blogspot.com/2012/04/contoh-makalah-pengantar-bisnis.html Diakses Pada
hari sabtu 5 Januari 2013 pukul 19.30 wib.
.blogspot.com/2012/04/contoh-makalah-pengantar-bisnis.html Diakses Pada
hari sabtu 5 Januari 2013 pukul 19.30 wib.
Ruzh 2012 http://ruzh.blogspot.com/2010/09/ruang-usaha-panduan-dan-analisis.html
Diakses Pada hari sabtu 5 Januari 2013 pukul 19.30 wib.
Diakses Pada hari sabtu 5 Januari 2013 pukul 19.30 wib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar